Senin, 08 April 2013

MAKALAH BIMBINGAN DAN KONSELING

 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Penulisan
Dalam kegiatan Bimbingan sangat perlu adanya pendekatan-pendekatan yang harus ditempuh. Melalui pendekatan-pendekatan bimbingan antara pembimbing dengan  kliennya dapat terjalin interaksi, yakni hubungan timbale balik antara keduanya yang kemudian masalah-masalah yang dihadapi kliennya dapat terpecahkan.
Melalui jalan  pendekatan-pendekatan bimbingan tujuan umum dan tujuan khusus bimbingan  dapat tercapai dengan hasilyang baik. Setiap manusia memiliki masalah-masalah yang berbeda oleh sebab itu perlu adanya pendekatan-pendekatan bimbingan  yang beranekaragam  dimaksudkan agar pendekatan yang diterapkan sesuai dnegan masalahnya agar pemecahannya mendapatkan hasil yang baik.

B.     Rumusan Masalah
  1. Apa arti pendekatan bimbingan ?
  2. Apa yang dimaksud dengan pendekatan krisis ?
  3. Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Preventif ?
  4. Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Remidial ?
  5. Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Perkembangan ?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan kami,yaitu dimakdudkan untuk mengetahui arti pendektan bimbingan, maksud pendekatan krisis, endekatan remedial, pendekatan preventif, dan pendekatan perkembangan.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendekatan Bimbingan
Bimbingan pada hakikatnya bukanlah merupakan suatu hal yang baru. Sejak zaman dahulu bimbingan dan penyuluhan ini sudah ada zaman menghadapi kesulitan, orang biasanya meminta bantuan orang lain untuk turut serta memecahkan kesulitan tersebut. Di dalam memecahkan masalah-masalah tersebut terlihat adanya perbedaan antara orang-orang tua kita pada zaman dahulu dengan orang-orang tua kita zaman sekarang. Perbedaan ini terletak pada approach yang ditempuh dalam menhadapi masalah.
Pendekatan/Approach yang sering ditempuh oleh orang-orang zaman dahulu disebut dengan non scientif approach atau pseudo-scientific approach Karena Approach ini tidak mendasarkan hal-hal yang objektif, tidak mendasarkan hal-hal yang nyata dan lebih bersifat misterius. Sedangkan approach yang dipakai oleh orang zaman sekarang disebut scientific approach karena berdasarkan hasil  interview, hasil penelitian prestasi belajar, hasil test dan sebagainya. Jadi, berdasarkan hal-hal yang objektif, dan tidak bersifat spekulatif serta dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.[1]
Adanya pendekatan dalam bimbingan yang dimaksudkan agar tercapainya tujuan secara umum yakni penyelenggaraan bantuan pelayanan bimbingan adalah berupaya membantu siswa menemukan pribadinya, dalam hal mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya, serta menerima dirinya secara positif dan dinamis sebagai modal pegembangan diri lebih lanjut. Bimbingan juga membantu siswa dalam rangka mengenal lingkungan dengan maksud agar  peserta didik mengenal secara objektif lingkungan, baik lingkungan social maupun lingkungan fisik dan menerima berbagai kondisi lingkungan itu secara positif dan dinamis pula. Selanjutnya, bimbingan membantu siswa dalam rangka merencanakan masa depan dirinya sendiri, baik menyangkut bidang pendidikan, bidang karier, maupun bidang budaya/keluarga/masyarakat.
Lebih khusus, untuk mencapai tujuan tersebut, bidang-bidang mencakup seluruh upaya membantu yang meliputi bidang bimbingan pribadi, bimbingan social, bimbingan belajar, dan bimbingan karier.[2]

B.     Jenis-Jenis Pendekatan Bimbingan
Pendekatan bimbingan dibagi menjadi 4 pendekatan :
a.      Pendekatan krisis
Pendekatan krisis adalah upaya bimbingan yang  diarahkan kepada individu yang  mengalami krisis atau masalah.
Para penulis kontenporer telah membagi krisis menjadi 3 jenis yaitu  :
1.      Krisis yang tidak disengaja atau situasional
Krisis ini terjadi terutama saat ada ancaman yang datang secara tiba-tiba, kejadian yang sangat  mengganggu atau datangnya suatu musibah secara tak terduga. Misalnya kematian orang yang kita cintai, diketahuinya sesuatu penyakit yang sangat serius, pengalaman akan pemerkosaan atau penganiayaan,kahamilan diluar pernikahan, gangguan social sepertiperang atau depresi ekonomi, kehilangan pekerjaan. Semua contoh tersebutmerupakan tekanan situasional yang dapat mempengaruhi baikindividu yang bersangkutan maupun keluarga.

2.      Krisis Developmental
Krisis ini terjadi terjadi seiring dengan perkembangan moral seseorang dalam kehidupannya. Waktu seseorang mulai bersekolah, masuk keperguruan tinggi, menyesuailan dirinya dengan perkawinan dan perannya sebagai orang tua, menghadapi kritikan, menghadapi pension atau kesehatan yang menurun, atau  menerima kematian sahabatnya, semuanya ini adalah krisis yang menuntut pendekatan-pendekatan baru supaya orang dapat menghadapi dan memecahkan masalah.



3.      Krisis Eksistensial
Krisis yang diakibatkan tumpang tindi kenyataan  yang mengganggu, terutamatentang diri kita sendiri.[3]

Analisis :
            Menurut kelompok IV pendekatan krisis adalah suatu bentuk pendekatan  yang titik tekannya terhadap permasalahn yang sedanga dialami oleh klien akan tetapi belum menemukan pemecahan masalahnya.  Krisis situasional, krisis Developmental, dan krisis eksistesial adalah permasalahan yang butuh bimbingan oleh konselor agar jalan hidup klien tersebut terjadi secara normal. Terkadang pendekatan krisis  merupakan tindak lanjut  terhadap permasalahn yang belum bisa  terpecahkan dengan menggunakan pendekatan preventif.

b.      Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial adalah upaya pembimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan. Pengajaran remedial dapat didefiniskan sebagai upaya guru untuk menciptakan situasi yang memungkinkan individu atau sekelompok siswa tertentu agar  lebih mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin  sehingga dapat memenuhi criteria keberhasilan minimal yang diharapkan, dengan melalui suatu proses interaksi yang terencana, terorganisasi,terarah, terkoordinasi, terkontrol dengan lebih memperhatikan taraf kesesuaiannya terhadap keragaman kondisi objektif individu dan atau kelompok siswa yang bersangkutan serta daya dukung sarana dan linhkungannya.
Pengajaran remedial  merupakan salah-satu tahap kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostic kesulitan belajar mengajar. Secara skematika prosedur remedial tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
1.      Diagnostik kesulitan belajar-mengajar
2.      Rekomendasi/referral
3.      Penelaahan kembali kasus
4.      Pilihan alternative tindakan
5.      Layanan konseling
6.      Pelaksanaan pengajaran remedial
7.      Pengukuran kembali hasil belajar mengajar
8.      Reevaluasi/Rediagnostik
9.      Tugas Tambahan
10.  Hasil yang diharapkan[4]

Pengulangan ini dapat dilakukan dengan berbagai tingkatan sesuai dengan doagnostiknya, yaitu:
1.      Pada setiap akhir pertemuan
2.      Pada setiap akhir unit pelajaran tertentu
3.      Pada akhir satuan program studi
Pelaksanaannya dapat secara :
1)      Individual kalau ternyata yang memiliki kesulitan terbatas.
2)      Kelompok kalau ternyata sejumlah siswa dalam bidang studi tertentu mempunyai jenis/sifat kesalahan atau kesulitan bersama.
1)      Bila sebagian/seluruh kelas mengalami kesulitan sama, diadakan pertemuan kelas biasa berikutnya:
§  Bahan dipresentasikan kembali:
§  Diadakan latihan/penigasan/soal bentuknya sejenisnya;
§  Diadakan pengukuran kembali untuk mendeteksi hasil peningkatan ke arah criteria keberhasilan
2)      Diadakan di luar jam pertemuan biasa.
§  Diadakan jam pelajaran tambahan bila yang mengalami kesulitan hanya sejumlah orang tertentu (waktu sore, waktu istirahat, dan sebagainya)
§  Diberikan pekerjaan rumah dan dikoreksi oleh guru sendiri.
3)      Diadakan kelas remedial (kelas khusus)
§  Bagi siswa yang mengalami kesulitan khusus dengan bimbingan khusus.
§  Diadakan pengulangan secara total kalau ternyata jauh di bawah criteria keberhasilan minimal.

Metode yang digunakan dalam pengajaran perbaikan (remedial) yaitu metode yang dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus sampai dengan tindak lanjut. Adapun metode yang dapat digunakan yaitu Tanya jawab, discus, tugas, kerja kelmpok dan pengajaran individual.[5]

Analisis :
            Pendekatan remedial merupakan upaya  menindak lanjuti permasalah yang dialami oleh klien, sedangkan memecahkan masalah dengan menggunakan pendekatan preventif dan pendekatan krisis belum bisa terselesaikan. Menurut kami penderkatan remedial sangat dibutuhkan sekali agar bisa meningkatkan kemampuan klien seoptimal mungkin demi mencapai  puncak keberhasilan.

C.    Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif adalah upaya yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum, individu dan mencoba mencegah jangan sampai terjadi masalah tersebut.pendekatan ini bias ditujukan kepada siswa tertentu yang berdasarkan data/informasi dipredisikan atau patut diduga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu program studi tertentu yang akan ditempuhnya. Predikis itu dikategorikan menjadi tiga yaitu :
-          Bagi yang termasuk kategori  normal mampu menyelesaikan program belajar mengajar sesuai dengan waktu yang disediakan.
-          Bagi mereka yang diperkirakan terlambat atau tidak dapat diselesaikan dengan batas waktu yang ditetapkan. Berdasarkan prediksi tersebut maka layanan pengajaran perbaikan dapat dalam bentuk
1.      Bentuk belajar homogen
2.      Bentuk individual
3.      Bentuk kelompok dengan jelas remedial
Ada salah satu slogan yang berkembang dalam bidsng kesehatan,yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati. Slogan ini relevan dengan bidang bimbingan dan konseling yang sangat mendambahkan sebaiknya individu tidak mengalami sesuatu masalah. Apabilaindividu tidak mengalami seuatu masalah, maka besarlah kemungkinan ia akan dapat melaksanakan proses perkembnagannya dengan baik, dan kegiatan kehidupannya pun dapat terlaksana tanpa ada hambatan yang berarti. Pada gilirannya, prestasi yang handal  dicapainya dapat pula semakin meningkat.
Upaya pencegahan memang telah disebut orang sejak puluhan tahun yang lalu.pencegahan diterima sebagai sasuatu yang baik dan perlu dilaksanakan. Tetapi hal itu kebanyakan baru disebut-sebut saja, perwujudannya yang bersifat operasional konkret belum banyak terlihat.
Bagi konselor professional yang misi tugasnya dipenuhi dengan perjuangan untuk menyingkirkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi perkembangan individu,upaya pencegahan tidak sekedar merupakan ide yang bagus, tetapi adalah suatu  keharusan yang bersifat etis (horner & McElhaney, 1993). Oleh karena itu, pelaksanaan fungsi pencegahan bagi konselor merupakan bagian dari tugas kewajibannya yang amat penting.[6]
Bimbingan dan konseling perlu menetapkan  program kegiatan dalam rangka menangulangi kenakalan tersebut yang sumber penyebabnya terletak didalam dorongan negative pribadi dan pengaruh negative dari lingkungan sekitar.

Program yang ditetapkan, harus dapat menjangkau segala iktiar yang bersifat umum dan kusus yaitu :
1.      Iktiar pencegahan yang bersifat umum meliputi :
-          Usaha pembinaan pribadi remaja sejak masih dalam kandungan melalui ibunya
-          Setelah lahir, maka anak perlu diasuh dan didik dalam suasana yang stabil, mengembirakan serta optimisme.


2.      Usaha-Usaha yang bersifat khusus
Untuk menjamin ketertiban umum, khususnya dikalangan remaja perlu diusahakan kegiatan-kegiatan pencegahan yang bersifat khusus dan langsung yaitu pengawasan.

Analisis :
Menurut kelompok IV pendekatan preventif adalah bentuk upaya  yang dilakukan oleh seorang  konselor terhadap kliennya untuk mencegah jangan sampai kliennya mendapatkan masalah dengan menggunakan trik-trik yang loagis dan seobjektif mungkin.

D.    Pendekatan Perkembangan
Pendekatan ini merupakan upaya yang dilakukan selama proses belajar mengjar berlangsung (During teaching giagnostic) yang merupakan tindak  lanjut upaya diagnostic.
Sasaran pokok dari pendekatan ini ialah agar siswa dapat mengatasi hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami selama proses belajar mengajar berlangsung. Oleh karena itu diperlukan peranan bimbingan dan penyuluhan agar tujuan pengajaran yang telah dirumuskan berhasil.
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling, fungsi pemeliharaan dan pengembangan dilaksanakan melalui berbagai pengaturan kegiatan dan program. Misalnya disekolah, bentuk  dan ukuran meja/kursi murid disesuaikam dengan ukuran tubuh ( dan besarnya) serta sikap tubuh yang diharapkan (tegap dan gagah), ventilasi, suhu, bentuk dan susunan ruang kelas diusahakan agar mereka berada diruangan itu merasa nyaman, betah dapat dilakukan kegiatan dengan tenang dan sepenuh kemampuan .
Bimbingan perkembangan merupakan suatu bentuk layanan bantuan yang diberikan oleh guru kepada anak didik dalam upaya membantu  memecahkan berbagai masalah yang dihadapi anak dan mengembangkan berbagai aspek kemampuan kebutuhan, kemampuan, minat, dan masalah-masalah dalam perkembangan anak. Penciptaan lingkungan yang kondusif menjadi factor utama dalam pendekatan perkembangan, karena perkembangan yang sehat akan berlangsung dalam interaksi.

Analisis :
Pendekatan perkembangan adalah  pendekatan yang merupakan tindak lanjut pendekatan  preventif, pendekatan krisis dan pendekatan remedial.  Seorang guru Bimbingan Konseling (BK)  ditutut  untuk tetap mengawasi secara terus menerus terhadap perkembangan siswa/siswinya. Meskipun  seorang guru telah menjalankan  bimbingan terhadap siswa/siswinya  yang bermasalah ia tidak boleh lepas tangan setelah itu, tetapi ia harus selalu memantau dan  mengontrol perkembangan siswa/siswinya   tersebut untuk  meningkatkan kemampuan  siswa/siswinya   seoptimal  mungkin.
p
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Bimbingan pada akikatnya bukanlah merupakan suatu hal yang baru karena sejak zaman dahulu telah ada. Bimbingan di maksudkan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Adanya pendekatan dalam   bimbingan yang dimaksudkan agar tercapainya tujuan bimbingan baik secara umum maupun khusus.
Jenis-jenis pendekatan terbagi atas 4 bagian yaitu :
-          Pendekatan krisis, yaitu upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah.
-          Pendekatan remidialyaitu upaya pembimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan.
-          Pendekatan preventif yaitu upaya yang diarahkan untuk mengantisipasi masala-masalah umum, individu dan mencoba mencegah jangan sampai terjadi masalah tersebut.
-          Pedekatan perkembanga yaitu upaya yang dilakukan guru selama proses belajar mengajar berlangsung yang merupakan tindak lanjut upaya diagnostic.

B.     Saran
               Dalam melakukan bimbingan, pembimbing harus bias memahami serta menanggapi dengan baik terhadap kliennya serta mampu mengaplikasikan prsedur-prosedur dalam kegiatan bimbingan dan hal-hal yang perlu diperhatikan, seorang pembimbing hendaknya bias melakuakan pendekatan-pendekatan bimbingan dengan baik terhadap kliennya dimaksudkan agar tercapainya tujuan umum dan tujuan khusus bimbingan.






DAFTAR PUSTAKA


-          Ahmadi,Abu. 1991.Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta.
-          http//em-eg.blogspot.com/2009/II/Pendekatan-Bimbingan-dan-Penyuluhan.html.
-          Sukardi, Dewa Ketut, 2003, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling Disekolah. Rineka Cipta. Jakarta.
-          Achmad Juntika Nurihsan, 2009, Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Refika Aditama, Bandung.
-          Prayitno.M, 2004, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Rineka Cipta, Jakarta.
-           



KATA PENGANTAR

            Segala puji bagi Allah SWT kami panjatkan kehadiratnya, karena berkat taufik hidayahnya, dan inayah-Nyalah makalah bimbingan dan penyuluhan yang memuat isi mengenai Pendekatan Bimbingan ini dapat kami selesaikan. Adapun pembuatan makalah ini dimaksudkan untuk diajukan sebagai syarat  dalam diskusi kelompok pada mata kuliah bimbingan dan penyuluhan di sekolah tinggi Agama Islam Rahmaniyah (STAIR) Sekayu dan atas dasar itulah maka kami mengharapkan semoga makalah ini bias digunakan sebagai bahan diskusi kelompok sebagaimana mestinya.
            Mengingat isinya sangat penting sebagai bahan pembelajaran agartercapainya tujuan dalam menghadapi dan memecahkan masalah, baik masalah individu ataupun masalah kelompok.
            Mudah-mudahan makalaj ini besar  manfaatnya bagi para pembaca dan khususnya bagi penulis menjadi amal yang sholeh yang bias menghantarkan kesusksesan dalam belajar.


Sekayu, 14 April 2011


Penyusun


ii
 

DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR.................................................................................... ii       
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A.    Latar Belakang Penulisan.................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................ 1
C.     Tujuan Penulisan.................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................... 2
A.    Pendekatan Bimbingan........................................................................ 2
B.     Jenis-Jenis Pendekatan Bimbingan...................................................... 3
b.      Pendekatan Krisis.......................................................................... 3
c.       Pendekatan Remidial..................................................................... 4
d.      Pendekatam Preventif................................................................... 6
e.       Pendekatan Perkembangan ........................................................... 7
BAB III PENUTUP.........................................................................................
A.    Keseimpulan........................................................................................ 9
B.     Saran.................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA


iii
 
 


[1] http//em-eg.blogspot.com/2009/II/Pendekatan-Bimbingan-dan-Penyuluhan.html
[2] Dewa Ketut Sukardi, 2003, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling Disekolah. Rineka Cipta. Jakarta.hlm 38
[4] Achmad Juntika Nurihsan, 2009, Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Refika Aditama, Bandung, hlm. 23
[5] Abu Ahmadi, 1991, Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta, hlm. 172
[6] Prayitno.M, 2004, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Rineka Cipta,Jakarta Hlm. 202